Jumat, 12 November 2010

Angkatan Sastra Indonesia

Mengenal Angkatan Karya Sastra
Dalam kesusastraan Indonesia dikenal beberapa periode, yaitu:
1.       Zaman Klasik (… - 1831)
Zaman klasik yaitu zaman belum ada tulisan. Pada zaman itu sastra berbentuk lisan, baik prosa maupun puisi. Misalnya mantra, pantun, gurindam , dan dongeng. Kesusastraan zaman klasik termasuk zaman setelah ada tulisan, misalnya pada zaman Hindu. Tulisan Sanskerta telah melahirkan huruf Rencong, huruf Jawa, dan syair.

Sifat sastra pada zaman Klasik adalah :
a.       statis  (tidak mudah menerima pengaruh luar0
b.      anon im (tidak diketahui pengarangnya sehingga karya sastra dianggap milik bersama)
c.       istana sentries (visi cerita berkisar di istana, dewa, dan alam gaib)
d.      bahasanya romantic dengan kalimat yang bertumpuk
e.      temanya tentang perjuangan buruk dan baik
f.        berisi tentang pendidikan moral (didaktis)
g.       menceritakan keagungan seorang raja atau pahlawan

2.       Zaman Peralihan  (1931 -1854)
Zaman peralihan sering disebut zaman Abdullah karena ia yang merintis jalan ke dunia modern. Sifat sastra pada zaman itu adalah:
a.       individualis dan tidak anonym lagi
b.      progresif, tetapi masih tradisional dal;am bentuk dan bahasanya
c.       menulis apa yang dilihat dan dirasakan
d.      sudah mulai masyarakat sentris
e.      temanya tentang kisah perjalanan, biografi, adat- istiadat, dan didaktis
             Hasil karya sastra pada zaman ini, antara lain: Kisah Abdullah ke Malaka Utara, Perjalanan Abdullah ke Kelantan dan Tenggano, dan Hikayat Abdullah, dan sebagainya.
3.       Zaman Balai Pustaka (1920 – 1933)
Zaman balai Pustaka disebut juga Angkatan 20-an. Sifat karya sastra pada zaman ini adalah:
a.       progresif  (mengikuti keadaan zaman)
b.      masih tradisional (pantun, syair, gurindam, dongeng, hikayat, kisah)
c.       masyarakat  sentris
d.      menggunakan gaya bahasa alusio dan kalimat yang panjang disertai sinonim
e.      temanya didaktis, adat-istiadat, sejarah, tambo, perjuangan baik dan buruk.
              Hasil karya pada Zaman Balai Pustaka antara lain:
a.         Azab dan Sengsara – Merari Siregar (1920)
b.         Siti Nurbaya – Marah Rusli (1922)
c.          Muda Teruna – M Kasim (1922)
d.         Sengsara Membawa Nikmat – Tulis St.Sati (1928)
e.         Salah Asuhan –Abdul Muis (1928), dan sebagainya.

4.       Zaman Pujangga Baru (1933 – 1942)
Zaman Pujangga Baru sering disebut Angkatan 30-an. Angkatan ini dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane.  Karya sastra zaman Pujangga Baru  mempunyai sifat:
a.       progresif
b.      dinamis
c.       individualis, tidak anonim
d.       bahasa yang digunakan indah-indah
e.      karya sastra berbentuk superlatif (perbandingan)
f.        temanya tentang perjuangan, emansipasi, rasa kebangsaan, kepincangan sosial, falsafah hidup dan gagasan.
Hasil karya pada zaman Pujangga Baru antara lain:
a.       Puspa Mega (kumpulan puisi – Sanusi Pane)
b.      Tebaran Mega (kumpulan puisi – St. takdir Alisyahbana)
c.       Nyanyi Sunyi  (kumpulan Puisi – Amir Hamzah)
d.      Rindu Dendam ( kumpulan puisi – J.E. Tatengkeng)
e.      Layar Terkembang ( novel – St. Takdir Alisyahbana)
f.        Belenggu (novel – Armijn pane)
g.       Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel – St. Takdir Alisyahbana)
h.      Ken Arok dan Ken Dedes (drama – Moh. Yamin)
i.        Manusia Baru ( drama – Sanusi Pane)
j.        Jinak-Jinak Merpati  (kumpulan drama – Armijn Pane), dan sebagainya.

5.       Zaman Angkatan ’45 (1942 – 1966)
Angkatan ’45 lahir saat zaman Jepang berkuasa di Indonesia. Pelopor Angkatan ’45 ialah Chairil Anwar. Karakteristik karya sastra angkatan ini adalah :
a.       revolusioner  dalam bentuk dan isi
b.      mengutamakan isi dalam pencapaian tujuan
c.       ekspresionis
d.      individualis, tidak terikat oleh konvensi masyarakat dan fakta seni yang ada
e.      temanya humanism, penderitaan rakyat, dan moral
Hasil karya pujangga Angkatan ’45 antara lain:
a.       Atheis ( novel – Achdiat Kartamihardja)
b.      Jalan Tak Ada Ujung ( novel – Mochtar Lubis)
c.       Senja di Jakarta (novel – Mochtar Lubis)
d.      Dari Ave Maria ke Lain ke Roma (kumpulan cerpen – Idrus)
e.      Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen – Asrul  Sani)
f.        Dr. Bisma (drama – Idrus)
g.       Sedih dan Gembira ( kumpulan Drama – Usmar Ismail)
h.      Drama Tumbang ( drama – Trisno Soemardjo)
i.        Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (kumpulan puisi – Chairil Anwar)
j.        Puntung Berasap (kumpulan puisi – Usmar Ismail), dan sebagainya.

6.       Zaman Angkatan ’66 (1966 – 1970)
Zaman Angkatan ’66 lahir dengan latar belakang hati nurani yang melahirkan Ampera di saat G30 S/PKI meletus tahun 1965. Pada waktu itu rakyat menuntut keadilan untuk kembali ke Pancasila yang murni, bersih dari komunisme.
Karakteristik karya sastra pada zaman ini adalah:
a.       pragmatis, menyuarakan hanura, ampere, antitirani, dan menyingkirkan komunisme
b.      nasionalis
c.       tidak terikat oleh fakta seni konvensional
d.      bertemakan gema ampera, antitirani, kebobrokan masyarakat, dan kelaparan.
Hasil karya pada zaman Angkatan ’66 antara lain:
a.       Dua dunia ( kumpulan cerpen – N.H. Dini)
b.      Domba-Domba Revolusi (drama – B. Soelarto)
c.       Pergolakan (novel -  Wildan  Yatim)
d.      Telegram ( novel – Putu Wijaya0
e.      Tirani (kumpulan puisi – Taufiq Ismail)

7.       Zaman Angkatan ‘70
Sekitar tahun ’70-an, muncul karya-karya sastra yang berbeda dari karya sebelumnya. Kebanyakan karya-karya itu tidak menekankan pada makna kata. Para kritikus sastra menggolongkan karya-karya tersebut ke dalam jenis sastra kontemporer (mutakhir). Kemunculan sastra semacam ini dipelopori oleh Sutardji Calzoum Bachri. Ciri umum puisi Sutardji adalah diabaikannya unsur makna. Ia lebih menekankan permainan bunyi dan bentuk grafis. Kemutakhiran puisi-puisi Sutardji  itu terkumpul dalam buku  O, Amuk Kapak  yang diterbitkan pada tahun 1981.

Kekontemporeran puisi-puisi angkatan ’70-an tampak pula pada penyair-penyair lainnya, seperti Leon Agusta dalam buku kempulan puisinya yang berjudul Hukla (19790, Hamid Jabbar dalam Wajah Kita (1981), F. Rahardi dalam Catatan Sang Koruptor (1985), Rahman Qahhar dalam Blong, dan Ibrahim Sattah dalam Dandandik (1985).

Beberapa sastrawan lain yang terkenal pada angkatan ini adalah Umar Kayam, Ikranegara, Arifin C.Noer, darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Sapardi Djoko Damono, Satyagraha Hoerip Soeprobo, termasuk paus sastra Indonesia H.B.Jassin, dan sebagainya.

Drai karya yang berbentuk novel, beberapa novel terbit pada paruh pertama hingga pertengahan tahun 1970-an, menampilkan gejala-gejala lokal, yang melukiskan kehidupan sehari-hari, seperti keluarga, kepercayaan, ritual, dan kebiasaan sebuah komunitas. Hal itu dapat ditelusuri dalam novel Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Khotbah di Atas Bukit (1976), cerpen Suluk Awang-Uwung (1975), Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977) karya Kuntowiwijoyo, dan sebagainya

8.       Zaman Angkatan ’80-an
Pada era 1980-an tema-tema lokal dalam sastra Indonesia masih berkutat pada persoalan nilai kehidupan tradisional dan modern. Novel tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-Burung Manyar (1981), dan Ikan-Ikan Hiu, Ido,Homa (1983) karya Y.B . Mangunwijaya, Bako (1983) karya Darman Moenir, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad tohari, untuk menyebut beberapa contoh, masih berkutat pada persoalan ritual, agama, dan kekerabatan.

Selain itu, beberapa karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai pula dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa itu yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada angkatan tersebut tersebar luas di berbagai majalah dan penerbitan umum. Beberapa sastrawan lainnya yang dapat mewakili angkatan dekade 80-an ini antara lain Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Adidarma, Kurniawan Junaidi, dan sebagainya.

Pada era ’80-an tumbuh sastra yang beraliran pop remaja, yaitu lahirnya sejumlah novel popular yang dipelopori oleh Hilman dengan serial Lupus-nya. Dari penulisan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih serius.

9.       Angkatan Reformasi
Sastrawan angkatan Reformasi memiliki cirri tema refleksi tentang keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Kondisi reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra puisi, cerpen, dan novel pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial politik mereka.

10.   Angkatan 2000
Mengenai angkatan 2000 ini, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 mengemukakan wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan 2000.[i]Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dikategorikan oleh Korrie Layun Rampan ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak tahun 1980-an , seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Rosa Herliany.

Pada angkatan ini, karya-karya cenderung lebih berani dan vulgar. Hal ini tampak pada karya-karya Ayu Utami dengan karyanya yang berjudul Saman. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka dan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung, lanjutan dari cerita Saman.

Sebagai jawaban atas maraknya karya-karya vulgar dan novel-novel teenlit yang mengadopsi begitu saja moral pergaulan yang serba bebas ala remaja Amerika, pada masa ini bermunculan pula fiksi-fiksi Islami. Oleh karena itu, fiksi Islami kemudian didefinisikan sebagai karya sastra fiksi yang ditulis dengan pendekatan Islami, baik dalam tema (persoalan yang diangkat) maupun dalam sistematika penulisan karyanya yang bahasanya santun dan bersih dari citraan[-citraan yang erotis dan vulgar.

Tradisi penulisan fiksi Islami tersebut kemudian berkembang sangat marak, terutama sejak awal dasawarsa 2000-an. Banyak penulis ternama lahir dari fenomena fiksi Islami itu, seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, Habiburrahman El Shirazy, dan Fahri Aziza.

                                                                                                        **uswa basasina smanssa**
                                                                                                                 November 2010



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar